Rabu, 27 Agustus 2014

malam lelah

Deru beribu bintang itu,
Menyindir yang sedang sakit hati,
Lalu bulan menyanyikan lagu sendu,
Betapa buruk malalm bagi badai yang tak bertuan,
Lalu hujan menggandeng dingin dengan erat,
Betapa kelam bagi badai yang tak berpilot,
Dengan begitu banyak kilatan kilau air dari jauh,
Lalu menguap pertanyaan,
Kapankah ini akan tuntas?
Tak ada yang sanggup menjawab selain dusta
Dusta yang berkelana menghampiri mereka yang tak menjaga hati

Saat dusta adalah teman bagi malam yang kelam,
Kemana sinar cinta itu pergi?
Kerelaan dari rasa berduka ini menjadi beton
Menguatkan kehidupan dan hidup.
Mengerti akan terambing hati,
Yang berlayar dengan ribuan cacat luka berteman,
Ditengah kelana jauh hati hati itu menyeru,
Tangisan menderu hebat membasahi laut,
Tapi dia masih duduk dengan lamunan yang mulai menenggelamkan....

Terbuat dari apakah segala rasa ini?
Rasa sakit yang tak dipahami,
Salah hati berpijak pada lampu pijar,
Lampu pijar yang tak agi memberi sinar
Ada harga yang berkaitan dengan jiwa,
Tapi itu dinomer duakan saat hatimu mulai kering,
Detak nadi mulai tak beraturan,
Lalu suasana mencekam itu disebut sakit hati

kau dan aku

Ada yang mengerti tapi tak mau memahami
Ada yang mencintai tapi tak mau memiliki
Ada yang menyayang tapi terus menyakiti,
Ada beribu jalan tanpa arah
Ada beribu arah tanpa tujuan
Ada jutaan harap tanpa pemberian
Ada jutaan pemberian tanpa balasan,
Ini tentang 2 insan yang memiliki hati kan?
Lalu kemana yang dipanggil logika?
Lalu dimana yang namanya akal?
Semua itu perlahan selalu ditepikan tanpa ada alasan
Semua itu selalu disingkirkan tanpa pertimbangan...

Adakah yang memikirkan 1 diantara 1000,
Kenapa?
Kalau takut terluka kenapa harus berharap?
tanya menggebu-gebu tanpa jawab,
Mencari celah demi cinta tuntas,
Kemana arah datang dan perginya?
Itu urusan tertinggal...

Lalu diberikan beribu pilihan dengan 1 resiko,
Lalu yang bernama cinta mulai tak bersahabat dengan yang dipanggil tulus,
Lalu bagaimana kabarnya hati?
Masih terlalu keras untuk menepuk dada bukan?
Lalu sakit itu siapa yang mau mengakhiri?
Kau bertanya pada malam yang diam pada dusta
Lalu kau tak mau diam pada luka yang sama?
Langkah memberatkan berani,
Kau sentuh sesuatu yang tak bertuan,
Lalu kau biarkan seisinya hancur tanpa sisa,
Dan semua yang ada hanya ada apa yang dikenang air mata