Terlambat menuliskan semua yang tak patut dibaca
Terlalu lama untuk menunggu bualan mulut singa
seonggok air mata kotor yang kau hujam
Tak perlu menyamarkan diri, jalang
untuk bersorak seakan kau tak berdosa
sayang,
kau meminta minum pada orang yang kuberi air
setebal apa kelakuan yang mengelok pendosa itu?
ribuan tawa hujan menelanjangi bungkus hati engkau
ini cadas, tapi kau balut bedak
kau tebarkan kotoran si pendosa,
lalu kau masih mengambil emasnya pada orang lain,
seberapa tebal harga diri jalang?
Senin, 28 September 2015
Rabu, 27 Agustus 2014
malam lelah
Deru beribu bintang itu,
Menyindir yang sedang sakit hati,
Lalu bulan menyanyikan lagu sendu,
Betapa buruk malalm bagi badai yang tak bertuan,
Lalu hujan menggandeng dingin dengan erat,
Betapa kelam bagi badai yang tak berpilot,
Dengan begitu banyak kilatan kilau air dari jauh,
Lalu menguap pertanyaan,
Kapankah ini akan tuntas?
Tak ada yang sanggup menjawab selain dusta
Dusta yang berkelana menghampiri mereka yang tak menjaga hati
Saat dusta adalah teman bagi malam yang kelam,
Kemana sinar cinta itu pergi?
Kerelaan dari rasa berduka ini menjadi beton
Menguatkan kehidupan dan hidup.
Mengerti akan terambing hati,
Yang berlayar dengan ribuan cacat luka berteman,
Ditengah kelana jauh hati hati itu menyeru,
Tangisan menderu hebat membasahi laut,
Tapi dia masih duduk dengan lamunan yang mulai menenggelamkan....
Terbuat dari apakah segala rasa ini?
Rasa sakit yang tak dipahami,
Salah hati berpijak pada lampu pijar,
Lampu pijar yang tak agi memberi sinar
Ada harga yang berkaitan dengan jiwa,
Tapi itu dinomer duakan saat hatimu mulai kering,
Detak nadi mulai tak beraturan,
Lalu suasana mencekam itu disebut sakit hati
Menyindir yang sedang sakit hati,
Lalu bulan menyanyikan lagu sendu,
Betapa buruk malalm bagi badai yang tak bertuan,
Lalu hujan menggandeng dingin dengan erat,
Betapa kelam bagi badai yang tak berpilot,
Dengan begitu banyak kilatan kilau air dari jauh,
Lalu menguap pertanyaan,
Kapankah ini akan tuntas?
Tak ada yang sanggup menjawab selain dusta
Dusta yang berkelana menghampiri mereka yang tak menjaga hati
Saat dusta adalah teman bagi malam yang kelam,
Kemana sinar cinta itu pergi?
Kerelaan dari rasa berduka ini menjadi beton
Menguatkan kehidupan dan hidup.
Mengerti akan terambing hati,
Yang berlayar dengan ribuan cacat luka berteman,
Ditengah kelana jauh hati hati itu menyeru,
Tangisan menderu hebat membasahi laut,
Tapi dia masih duduk dengan lamunan yang mulai menenggelamkan....
Terbuat dari apakah segala rasa ini?
Rasa sakit yang tak dipahami,
Salah hati berpijak pada lampu pijar,
Lampu pijar yang tak agi memberi sinar
Ada harga yang berkaitan dengan jiwa,
Tapi itu dinomer duakan saat hatimu mulai kering,
Detak nadi mulai tak beraturan,
Lalu suasana mencekam itu disebut sakit hati
kau dan aku
Ada yang mengerti tapi tak mau memahami
Ada yang mencintai tapi tak mau memiliki
Ada yang menyayang tapi terus menyakiti,
Ada beribu jalan tanpa arah
Ada beribu arah tanpa tujuan
Ada jutaan harap tanpa pemberian
Ada jutaan pemberian tanpa balasan,
Ini tentang 2 insan yang memiliki hati kan?
Lalu kemana yang dipanggil logika?
Lalu dimana yang namanya akal?
Semua itu perlahan selalu ditepikan tanpa ada alasan
Semua itu selalu disingkirkan tanpa pertimbangan...
Adakah yang memikirkan 1 diantara 1000,
Kenapa?
Kalau takut terluka kenapa harus berharap?
tanya menggebu-gebu tanpa jawab,
Mencari celah demi cinta tuntas,
Kemana arah datang dan perginya?
Itu urusan tertinggal...
Lalu diberikan beribu pilihan dengan 1 resiko,
Lalu yang bernama cinta mulai tak bersahabat dengan yang dipanggil tulus,
Lalu bagaimana kabarnya hati?
Masih terlalu keras untuk menepuk dada bukan?
Lalu sakit itu siapa yang mau mengakhiri?
Kau bertanya pada malam yang diam pada dusta
Lalu kau tak mau diam pada luka yang sama?
Langkah memberatkan berani,
Kau sentuh sesuatu yang tak bertuan,
Lalu kau biarkan seisinya hancur tanpa sisa,
Dan semua yang ada hanya ada apa yang dikenang air mata
Jumat, 04 Juli 2014
1 dibaklik 3
Rindu ini menunjuk titik dalam palung,
Kediaman ini karena tak mampu,
Kediaman ini karena mengalah,
Rindu ini menepuk dahi menepuk dada
Sadarkan beribu lamunan buram tentangmu
Lemah memori menjerit rasa,
Karenarindu ini masih begitu terik,
Aku bersembunyi dibalik debu demi segala tentang engkau,
Lalu kau biarkan debu ituberhamburan tak tentu arah,
Lalu mengertikah engkau dimana kini aku berteduh?
Dibalik beribu peluh jawabku,
Lalu percayakah engkau akan SEJATI?
Tak ada yang bisa yang bisa dipercaya jawab engkau
Seketika detak ini berhenti bergerak,
Menerima segala tindak tanpa tanda
Menerima segala peristiwa tanpa kenang,
Mengenang waktu tanpa album, sendiri dibalik sinar malam,
Kini malaikat yang akan menyampaikan pesanku,
AKU SAYANG KALIAN...
Kalian adalaah teman yang lebih dari sekedar karib, kata mereka.
Arang ini menjadikan kelabu saat merasa jauh,
Aku tak berdaya,
Aku tak bermain dengan resikoku
Air mata dan peluh melebur membasahi hari,
Berharap Tuhan menyampaikan rasa ini pada kalian,
Dan kau berkata, rasa apakah itu?
Maka mimpi menjawab, itu rasa cinta dan rindu...
Adakah disana kau rindu padaku sobat?
"tidak", mungkin itu adalah kata yang menghujamku,
Aku diam ditekuk malam,
semua menjauh, aku sadar, aku melihat,
aku berusaha menggenggam,
Tapi terlambat, kau terlalu jauh,
Kita berbeda,
Kita pernah bersama karena kita kita menyenangi itu
Tapi kini kita jauh,
Bukan karena kita sibuk,
Tapi karena aku yang tidak bisa menjagamu kawan,
Selamat malam,
AKU SAYANG KALIAN....
Kediaman ini karena tak mampu,
Kediaman ini karena mengalah,
Rindu ini menepuk dahi menepuk dada
Sadarkan beribu lamunan buram tentangmu
Lemah memori menjerit rasa,
Karenarindu ini masih begitu terik,
Aku bersembunyi dibalik debu demi segala tentang engkau,
Lalu kau biarkan debu ituberhamburan tak tentu arah,
Lalu mengertikah engkau dimana kini aku berteduh?
Dibalik beribu peluh jawabku,
Lalu percayakah engkau akan SEJATI?
Tak ada yang bisa yang bisa dipercaya jawab engkau
Seketika detak ini berhenti bergerak,
Menerima segala tindak tanpa tanda
Menerima segala peristiwa tanpa kenang,
Mengenang waktu tanpa album, sendiri dibalik sinar malam,
Kini malaikat yang akan menyampaikan pesanku,
AKU SAYANG KALIAN...
Kalian adalaah teman yang lebih dari sekedar karib, kata mereka.
Arang ini menjadikan kelabu saat merasa jauh,
Aku tak berdaya,
Aku tak bermain dengan resikoku
Air mata dan peluh melebur membasahi hari,
Berharap Tuhan menyampaikan rasa ini pada kalian,
Dan kau berkata, rasa apakah itu?
Maka mimpi menjawab, itu rasa cinta dan rindu...
Adakah disana kau rindu padaku sobat?
"tidak", mungkin itu adalah kata yang menghujamku,
Aku diam ditekuk malam,
semua menjauh, aku sadar, aku melihat,
aku berusaha menggenggam,
Tapi terlambat, kau terlalu jauh,
Kita berbeda,
Kita pernah bersama karena kita kita menyenangi itu
Tapi kini kita jauh,
Bukan karena kita sibuk,
Tapi karena aku yang tidak bisa menjagamu kawan,
Selamat malam,
AKU SAYANG KALIAN....
Kamis, 19 Juni 2014
gara-gara poker
kau dengan mereka?
merarmaikan segala suasana?
aku lelah memandangi dari belakang,
aku lelah menyibukan diri untuk tak peduli
aku tak tentu melangkah
aku ingin berada disitu
menemanimu tertawa
aku ingin tertawa disisimu
anda yang memiliki nama yang sama dengan presiden
anda yang memiliki nama dengan para tokoh dunia
aku ingin ada saat anda disini tadi
andai anda bisa lebih lama tinggal,
maka aku akan lebih bahagia
mata ini tak mampu menolak, maka hati mulai tak tentu
perasaanku mulai menentu
maka aku tak harus memintamu menoleh........
Kamis, 17 April 2014
TAK BERSAYAP
tak ada yang tahu detik berapa maqtahari muncul
tak ada yang menyempatkan waktu..
deti berapa matahari tenggelam
hiruk pikuk ini terlalu berharga untuk ditinggalkan
seandainya waktu dapat diputar berulang-ulang
tak akan ada kata menyesal
seandainya tak dikenal kesalahan
tak akan ada kata maaf
seandainya kehidupan tanpa rasa sakit
tak akan ada kata eluh
seandainya perasaan diciptakan hanya untuk bahagia
tak akan ada kata terluka
malaikat tanpa sayap.
bukan dongeng pelipur lara
saat kau paham siapa dia?
mungkin tak akan sadar sekarang
karena dia yang paling tahu siapa diri kita
maka dia...
yang memiliki kesempatan terbesar,
untuk membuat kita terluka
tak ada yang menyempatkan waktu..
deti berapa matahari tenggelam
hiruk pikuk ini terlalu berharga untuk ditinggalkan
seandainya waktu dapat diputar berulang-ulang
tak akan ada kata menyesal
seandainya tak dikenal kesalahan
tak akan ada kata maaf
seandainya kehidupan tanpa rasa sakit
tak akan ada kata eluh
seandainya perasaan diciptakan hanya untuk bahagia
tak akan ada kata terluka
malaikat tanpa sayap.
bukan dongeng pelipur lara
saat kau paham siapa dia?
mungkin tak akan sadar sekarang
karena dia yang paling tahu siapa diri kita
maka dia...
yang memiliki kesempatan terbesar,
untuk membuat kita terluka
Rabu, 16 April 2014
perisai emasmu(puisi peringatan hari kartini)
jejakmu lebih diam dari yang tergambar
langkahmu lebih lembut dari yang terlihat
kerutmu gambarkan jerih untuk masaku
guratmu titik beratkan masaku
titik hitam coba tembus lapis gelap
teguhmu sinar disetiap celah gelap
tulusmu sucikan tekad juangmu
dari balik jendela kau mengukir cahaya kaummu
detik itu bersaksi
dari setiap makna dalam guratan tinta
suratmu jadikan perisai emas masamu
titik balik cahaya jerih putri jepara
penamu tombak
jembatan bara cahaya
geloramu kokohkan setiap tekad
semangatmu robohkan yang gelap
karena cahayamu singkap seluruh gelap
untuk masaku,
kau gurat beribu cercah kehidupan
dalam masamu,
beribu hitam bergelayutan merayu
tapi demi masa,
kau taburkan cahaya disetiap kelopak mata
ini masaku,
berbunga hati sambut harimu
dan disini masaku
buang waktu jika tak berjuang dijalanmu

langkahmu lebih lembut dari yang terlihat
kerutmu gambarkan jerih untuk masaku
guratmu titik beratkan masaku
titik hitam coba tembus lapis gelap
teguhmu sinar disetiap celah gelap
tulusmu sucikan tekad juangmu
dari balik jendela kau mengukir cahaya kaummu
detik itu bersaksi
dari setiap makna dalam guratan tinta
suratmu jadikan perisai emas masamu
titik balik cahaya jerih putri jepara
penamu tombak
jembatan bara cahaya
geloramu kokohkan setiap tekad
semangatmu robohkan yang gelap
karena cahayamu singkap seluruh gelap
untuk masaku,
kau gurat beribu cercah kehidupan
dalam masamu,
beribu hitam bergelayutan merayu
tapi demi masa,
kau taburkan cahaya disetiap kelopak mata
ini masaku,
berbunga hati sambut harimu
dan disini masaku
buang waktu jika tak berjuang dijalanmu
Langganan:
Postingan (Atom)